10856538_508834692604698_7833801184186851517_o

Menglola Waktu Untuk Menata Hidup

Hanya kita sebagai makhluk hidup yang bisa memiliki waktu, yang bisa merasakan perbedaan antara dulu dan sekarang, antara sebelumnya dan sesudahnya. Setelah kita mati, waktu tidak lagi relevan karena kita, si pemilik raga, beralih ke alam kekekalan. Selama hayat masih di kandung badan, waktu adalah hidup kita (time equals life), sehingga bila kita menghamburkan waktu, yang kita hamburkan adalah hidup kita. Sebaliknya, dengan menguasai waktu, kita menguasai hidup kita. Waktu merupakan satu-satunya harta kita yang tidak boleh hilang (hilangnya waktu berarti hilangnya nyawa), harta yang sering kita rasakan kurang (24 jam rasanya belum cukup karena kita rasakan cepatnya waktu berlalu), tapi juga harta yang tidak bisa kita kelola secara baik. Setiap hari kita sibuk ngurusin hidupnya orang lain (boss kita atau kawan kita yang kerap membuat kita jengkel dan marah) dengan mengalokasikan waktu yang jauh dari cukup untuk orang-orang yang kita cintai. Kita berikan sebagian besar hidup kita untuk menyenangkan orang lain yang kurang peduli bila kita mati dibandingkan keluarga kita yang mencintai kita setulusnya. Sempatkan waktu untuk orang yang kita cintai dan sempitkan waktu untuk orang yang tidak membuat hidup kita nyaman dan tentram, yang menyebalkan.

Gunakan waktu kita yang terbatas dan singkat ini untuk mewujudkan apa yang kita hasratkan, bukan apa yang menurut orang lain cocok untuk kita. Untuk bisa menggunakan waktu seefisien dan seefektif mungkin, kita musti tahu apa dan siapa yang paling penting bagi hidup kita (menurut kita, bukan orang lain). Atur waktu kita supaya kita bisa mengatur hidup kita. Sadari bahwa Here & Now atau pada saat ini kita tengah mewujudkan mahakarya kita dan menciptakan masa depan yang kita dambakan. Tentunya kita musti mampu mengalokasikan waktu berdasarkan prioritas kebutuhan dan sesuai dengan rencana kerja dan jadwal yang telah kita susun. Bila kita tidak bisa mengatur waktu kita sendiri, hidup kita niscaya berantakan dan kacau. Kita terperangkap dalam lingkaran waktu yang melelahkan dan tanpa makna sehingga kita frustrasi.

Mengatur waktu adalah menata hidup, dan kita sebagai pemilik waktu tentu bisa kecuali kita tergolong berkebutuhan khusus, seperti kedua anak saya yang tidak memiliki kendali (conscius control over) waktu. Mereka sulit memaknai pergeseran waktu dan menata waktu. Kedua anak saya belum mampu merumuskan masa depan mereka, membuat rencana dan jadwal pelaksanaan untuk meraih tujuan tersebut, karena conscious mind mereka rusak. Adalah tugas saya sebagai ayah mereka untuk memulihkan conscious mind mereka sebisa mungkin dengan cara mengalokasikan waktu saya sebanyak mungkin untuk mereka dan untuk memperbaiki otak mereka sehingga mereka bisa menyadari keberadaan mereka di bumi ini dalam konteks waktu. Mereka lah yang menyibukkan saya. Saya sibuk bukan tanpa arah atau sekedar sibuk tapi sibuk untuk menyibak Rahasia Autisme agar saya bisa membantu bukan hanya anak-anak saya tetapi juga anak-anak berkebutuhan khusus lainnya. Di tengah kesibukan ini lah saya menyadari cepatnya waktu tapi saya bahagia karena saya disibukkan oleh agenda saya sendiri, bukan ambisinya orang lain, sehingga hidup yang indah ini jadi penuh makna. Mari kita hargai hidup kita dengan menghargai waktu kita.

autism-stats-2

HARI KESADARAN AUTISME SEDUNIA

2 April merupakan World Autism Awareness Day atau hari kesadaran autisme dunia yang disepakati bersama oleh masyarakat seluruh dunia dalam sidang umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Ini bukan tipuan meski terjadi sehari setelah April Mob atau April Fool’s yang berlangsung pada 1 April, di Indonesia, perhatian dan kepedulian akan kesepakatan dari the United Nation General Assembly masih tampak minim. Hanya pemerintah DKI yang terlihat peduli pada tujuan menetapkan tanggal 2 April sebagai hari Autis Dunia untuk meningkatkan kualitas hidup mereka yang diterpa bencana autisme. Pemerintah Pusat dan DPR tidak menggubris himbauan masyarakat dunia memberi kesempatan bagi mereka yang berkebutuhan khusus.

Sekjen PBB, Ban Ki-moon, menghimbau para pemimpin di dunia untuk membukakan pintu sekolah bagi anak-anak autis dan mengintegrasikan mereka ke dalam masyarakat Para orang tua anak berkebutuhan khusus diingatkan setiap tanggal 2 April untuk menerapi anaknya sedini mungkin. Di tahun ini -2015, Bapak Ban Ki-moon meluncurkan program bejudul an employment ”Call to Action,” yang meminta pada aparat pemerintah dan dunia bisnis untuk memberi kesempatan kerja atau mengkaryakan mereka yang berkebutuhan khusus. Himbauan ini lahir dari kenyataan bahwa lebih dari 80% orang dewasa berkebutuhkan khusus menganggur, tidak dapat atau gagal dapat kerjaan karena para pemiliki usaha enggan mengkaryakan mereka meski banyak anak autis yang memiliki kemampuan khusus yang luar biasa. Yang disorot adalah kelemahan mereka, bukan keunggulan mereka. PBB menghimbau agar dibukakan pintu lebih lebar bagi mereka untuk berkiprah di masyarakat sehingga mereka bisa hidup mandiri tanpa membebankan yang lain.

Ledakan autisme di Indonesia mulai sekitar awal era 1990-an, dan kini mereka lahir di era ini sudah membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi diri mereka sendiri. Anak-anak saya –James dan John- lahir pada 1995 dan 1996, dan kami memikirkan pula bagaimana hidup mereka bila kami selaku orang tuanya telah dipanggil Tuhan. Pertanyaan yang serupa juga pasti ada pada semua orang tua anak berkebutuhan khusus. Jalan keluarnya adalah membuat mereka bisa hidup mandiri. Kami tidak sendiri tentu, karena jumlah anak berkebutuhkan khusus makin lama makin banyak dengan kondisi kesehatan anak yang makin memprihatinkan. Kata autis tidak lagi asing di telinga kita karena pertumbuhan anak penyandang autis berlangsung secara astronomical, dahsyat! Dari 68 anak, kita akan menjumpai satu anak autis, one out of 68 children. Biaya rata-rata yang harus ditanggung untuk merawat anak autis ini selama setahun adalah Rp720,000,000, atau Rp60,000,000 per bulan pada kurs Rp12,000/US$ (Autism costs families $60,000 per year –on average). Bencana ini bukan akan hadir di Indonesia, tetapi sudah berkembang pesat di tanah air meski masih pada skala yang bisa ditangani oleh pemerintah dan DPR. Tapi segera lah bertindak sebelum bencana ini meluncur laksana bola es (snowballing) yang kian lama kian besar hingga sulit ditangani. Jangan bergegas setelah keluarga anda jadi korban. Mulai lah peduli sejak 2 April (2015) yang merupakan hari yang dicanangkan oleh PBB untuk mengenang dan memelajari lebih lanjut tentang bagaimana pengaruh autisme pada anak-anak dan keluarga mereka di seluruh dunia.

autism-stats-1

SEBELUM NASI JADI BUBUR: BENCANA KEMANUSIAAN

Lakukan lah sedini segala upaya agar apa yang kami alami tidak perlu diderita oleh lebih banyak orang. Autisma bukan lah sebuah lelucon yang berhenti hanya ketika mereka yang guyon ini mengalami sendiri derita karena anggota keluarganya memperoleh label autis. Hentikan lah kelakar seputar penggunaan istilah autis untuk mencela sesama karena prahara serupa bisa terjadi pada siapa saja, termasuk mereka yang menampik kehadiran anak autis di sekolah maupun tempat umum lainnya. Jangan pula meremehkan potensi hadirnya anak autis di keluarga kita karena statistics yang ada, seperti terlihat pada image di bawah ini, memang mencengangkan. Sewaktu SD, hingga 1970, saya tidak menjumpai anak auts; dari 10,000, hanya satu anak autis. 5 tahun kemudian, 1975, dari 5,000 anak ada 1 anak autis, memburuk 2 X lipat. Sewaktu anak saya lahir, 1995, pemburukan sudah makin parah, 20 X lipat. 6 tahun setelahnya, 2001, dari 10,000 orang ada 40 anak autis, dan 6 tahun kemudian, 2007, dari 150 orang ada 1 anak autis (2001: dari 250 ada 1), Makin tahun makin parah sehingga di 2013, dari 10,000, 200 autis, atau 200 kali lebih buruk dibandingkan pada 1970 yang hanya ada 1 anak autis dari 10,000 jiwa.

Jangan pernah berpikir ledakan jumlah penyandang autis hanya terjadi di negara kaya. Autisme bukan lagi endemic (membludaknya jumlah penyandang autisme di suatu daerah atau negara) tetap sudah menjadi pandemic (endemic secara global). WHO (World Health Organization) menyebutkan puluhan juta orang Afrika telah menyandang label autisme, dan autisme telah dinyatakan sebagai “a developmental disability pandemic yang largey under recognized, under appreciated, & under resourced. Ada sekitar 67 juta orang di dunia (+ 1% jumlah penduduk dunia) yang disebut manusia berkebutuhan khusus, melebihi jumlah penduduk yang terkena AIDS, diabetes, dan cancer bila digabungkan. Mungkin jumlah manusia berkebutuhan khusus di Indonesia belum sebanyak di Amerika, tetapi para petinggi negara ini, baik yang di pemerintah maupun di DPR, perlu segera menyikapi pemburukan yang juga terjadi di negara ini, terutama dengan membatasi produksi dan penggunaan bahan kimia yang kini diketahui sebagai penyebabnya. Evaluasi pula vaccines yang diberikan pada bayi-bayi di Indonesia. Vaccines memang bukan penyebab autisme, karena vaccines hanya mengakibatkan demyelination, atau pengelupasan myelin sheath yang menyebabkan neurological damage, sehingga terjadi autisme.

Studi yang dilakukan di Harvard School of Public Health dan dipublikasikan oleh The Lancet Neurology seperti dilansir oleh Forbes menemukan ada 11 chemicals yang menimbulkan Global Silent Pandemic of Neurodevelopemtal Toxicity in children with Autism, ADHD dan Dyslexia (Forbes), termasuk lead, methylmercury, arsenic, fluoride, dll). Pencemaran ekologi telah merusak biologi makhluk hidup, dan pengaruh environmental insults ini lebih besar (60-70%) dibandingkan predisposisi genetika (30-40%), genetika yang kian rentan dan rapuh akibat terpolusi heavy metals. Disebutkan: exposure to industrial chemicals may be responsible for a “silent pandemic” of brain development disorders affecting millions of children worldwide. Adalah tanggung jawab para pemangku kepentingan di republik ini untuk mencegah atau mengurangi dampak buruk dari kerusakan lingkungan pada warganegara yang terkena. Kumandangkan autism awareness, alokasikan dana (terutama di bidang pendidikan dan kesehatan) untuk membantu mereka yang terkena bencana autisme, sediakan wadah dan wahana penampung, dan buat undang-undang pelarangan penggunaan bahan kimia berbahaya. Lakukan sesegera dan sedini mungkin sebelum nasi jadi bubur. Semoga Indonesia tidak terlalu terlambat bersikap dan bertindak.

Franz Anton Mesmer

mesmer-201x300
“Dari seluruh raga yang ada di bumi ni, tubuh manusia memiliki pengaruh yang paling besar pada kita. Tidak ada makhluk hidup maupun mati yang bisa menggantikannya.”Franz Anton Mesmer

Dalam hal magnetisme dan penemuan kembali terapi magnetis, Dr. Franz Anton Mesmer merupakan tokoh yang luar biasa. Disebut sebagai penemuan kembali karena transfer energi melalui magnetisme oleh manusia menggunakan tenaga pikiran mencerminkan pengetahuan kuno bangsa manusia yang dipraktekkan pada semua kultur sehingga disebut ”Pengobatan Kuno.”

Berkat bantuan seorang wanita Inggris yang berkelana ke Vienna, Dr. Mesmer membuka praktek pengobatan di Vienna. Di sana Dr. Mesmer mengawalinya dengan pengobatan dengan menggunaka magnetic minerals yang kala itu amat termashur di Inggris. Hasrat penelitiannya membawanya ke penyelidikan dan penelaahan tentang efek yang ditimbulkan ole mineral magnet. Setelah melewati penelitian yang intensif tentang sifat yang terkandung dalam magnet, suatu hari Dr. Mesmer menjumpai pengalaman yang luar biasa. Sewaktu menangani darah yang tengah mengucur, beliau menyadari bahwa aliran darah berubah secara nyata sewaktu dia mendekat atau menjauh dari pasien nya. Pengalaman ini, sesudah menelaah lebih lanjut, membuatnya sadar bawha sifat dari mineral magnets terdapat pula pada tubuh manusia. Bertolak dari sini, beliau merumuskan teori:

”Tubuh manusia dan magnet memiliki perilaku yang serupa. Terdapat dua kutub yang berlawanan yang bisa dikomunikasikan, ditransformasi, dihancurkan, dan dipertahankan.”

Prinsip magentisme pada manusia dilandaskan pada hukum ilmiah yang mengacu pada magnet dan manusia.
-Principle of order atau Prinsip Keteraturan
-Principle of polarity atau Prinsip Polaritas
-Principle of transmission atau Prinsip Transmisi
-Magnetic field atau Medan Magnet
-Principle of permeation atau Prinsip Perembesan
-Principle of analogy atau Prinsip Analogi
-Principle of concussion atau Prinsip Kegegaran
-Principle of adjustment by brushing. Atau Prinsip Penyelarasan dengan Penggosokan

Kini Mesmer menyadari dan menekuni potensi penemuannya berupa terapi magnetis. Beliau mulai menangani pasientnya dengan menggerakkan tangannya dan menyalurkan magnetisme dari tubuhnya sendiri. Menggunakan referensi dirinya sendiri, terapi magnetisme ini kerap disebut sebagai ”Mesmerisme.”

Keberhasilannya dalam pengobatan ini sungguh luar biasa, bahkan kerap disebut sebagai penyembuhan ajaib. Mesmer pun mengalami keberhasilan gilang gemilang juga di Paris, dan ketenarannya menjulang hingga ke eselon tertinggi di kerajaan hingga dibangun Worldwide ”Harmonic societies –Society de I’Harmonie” sebagai wadah yang menerapkan dan melestarikan pengajaran Mesmer.

Keberhasilan konsep pengobatan ala Mesmer ini pada awal abad ke 19 terlihat dari didirikannya klinik untuk pemulihan dengan cara magnetis di Berlin di bawah pengelolaan Prof. Dr. Karl Christian Wolfart. Bukan hanya itu, gelar ke-professor-an (atau professorships) untuk terapi magnetis diadakan pada beberapa universitas di Jerman:

Bonn (Dr Christian Friedrich Nasse)
Halle (Dr Peter Krukenberg)
Giessen (Dr Johann Bernhard Wilbrand)
Jena (Dr Kieser)
Sayangnya perkembangan yang positif ini tersisih seluruhnya oleh pandangan yang makin kian materialistik dari pengobatan modern.

Dewasa ini terdapat banyak praktek terapi energi yang ditawarkan yang berasal dari Jepang, China, Amerika, India, atau Eropa. Hal ini bisa membingungkan, terutama karena beberapa orang agaknya mempercayai perlunya “inisiasi” atau “initiation” agar mampu menerapkan praktek ini. Dalam pada ini ibu Johanna ingin mengingatkan bahwasaya kebenaran pada hakekatnya sama sekali pun muncul dengan tampilan yang berbeda atau dinamai dengan label yang terdengar menawan atau exotic. Pada akhirnya pelbagai aplikasi dan nama ini bisa ditelusuri ke penyebabnya dan hukum magnetisme sekalipun keterpautannya tidak dikenali oleh para pemakainya dalam kurun waktu yang lama.

Kini sudah tiba waktunya untuk mengenali tradisi Terapi Magnetis lagi. Terapi ini tidak seperti yang dikatakan oleh beberapa orang bahwa Therapeutic Magnetism atau Terapi Magnetis ini merupakan metode pengobatan yang usang, ketinggalan jaman, karena:

“Tradisi bukan lah penyembahan abu, tetapi langkah penyerahan api.” Johanna Arnold
The 200th anniversary of the death of Franz Anton Mesmer

Treatment
Seminar
Case Studies
KINI HALAMAN #2