16-03-2015

Kekeliruan Fatal

Inbox saya kebanjiran pertanyaan dari para orang tua tentang manfaat beraneka supplements, vitamins, obat, terapi, medical tests (darah, urine, rambut, dsb) dan peralatan main untuk anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Meski kami pernah menjajaki beragam terapi, vitamin, alat, tapi tidak semua kami tahu, dan saya hanya bisa menceritakan apa yang pernah kami alami. Tapi karana posting-an ke inbox saya datang secara bertubi-tubi, saya akhirnya tersadar bahwa cara saya menjawab cuma melestarikan kekeliruan fatal yang pernah kami lakukan. Kalau kita pergi ke shopping mall, kita senantiasa harus beranjak dari ”apa yang kita mau beli” dan ”untuk apa kita beli itu.” Kalau kita tidak tahu apa yang mau kita beli, kita pasti jadi sasaran empuk para penjaja barang atau jasa. Para pedagang adalah orang yang keahliannya adalah membangkitkan niat beli calon pembelinya dengan menguraikan secara sistematis faedah barang dagangannya bagi kehidupan kita sebagai calon pembeli. Jika kita terbuai oleh kepiawaian sang penjaja yang biasanya dilatih untuk menjual lemari es ke orang Eskimo, kita bisa terkecoh membeli yang tidak benar-benar kita butuhkan. Setelah tiba di rumah, baru kita menyadari bahwa pertimbangan membeli itu lebih bersifat emosional dibandingkan rasional.

Serupa ini lah kejadiannya bila kita ditawari supplements, vitamins, terapi, tests, dan lainnya, dan kita pun sebagai orang tua ABK akan jadi sasaran extra empuk bagi para salesmen atau anggota MLM. Kondisi kita yang serba ringkih dan rentan menjadikan kita mudah dimangsa mereka yang mahir membaca dan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Kita tidak perlu berasumsi negatif pada para penjual ini seperti mereka lebih peduli pada isi dompet di saku kita dibandingkan kepulihan buah hati kita. Anggaplah mereka pun peduli pada anak kita, tapi sesayang-sayangnya mereka pada anak kita, mereka lebih sayang pada anak mereka sendiri. Uang yang diperoleh dari pembelian kita akan bermanfaat bagi anaknya, bukan anak kita. Dahaga kita akan hadirnya obat mujarab yang bisa selekasnya menormalkan anak kita merupakan titik lemah kita yang mudah dibaca para penjaja ulung, dan mereka akan masuk dari gerbang yang terbuka ini laksana dewa penyelamat anak kita yang hadir tanpa agenda terselubung (vested interests), melulu hanya untuk anak kita. Kita akan diajak untuk membayangkan ’kembalinya anakku’ dengan kondisi seperti yang kerap kita dambakan setelah anak ini diterapi dengan teknik ’terbaru dan tercanggih’ atau sesudah mengkonsumsi supplements yang dikononkan sebagai ”mustika termujarab” yang diracik secara khusus untuk mentransformasi anak autis jadi anak normal seperti yang diimpikan para ortu ABK.

Meski tidak terlalu yakin akan faedah yang kita beli bagi anak kita, kerap akhirnya kita pun mengeluarkan uang karena ”kita tidak punya pilihan lain.” Kekalutan kita sering mendorong kita untuk berucap ”apa boleh buat,” apa lagi bila para penjaja mengeluarkan aji pemungkas yang bunyinya ”apa ibu tega membiarkan anak ibu …..” Suara hati kita yang tengah berbisik ”it sounds too good to be true” atau ”awas” bisa padam seketika tatkala ajian pemungkas tersebut dikeluarkan. Yang sebelumnya terdengar ”tidak benar” pun di segera ”dibenar-benarkan” atau di-justify. Celakanya setelah telanjur terkecoh, ego kita terperosok lagi pada perangkap kedua bila sesudah beberapa saat (bahkan 3 bulan), pengorbanan kita (uang yang kita keluarkan) tidak sebanding dengan kemajuan yang dijanjikan sewaktu kita belum bayar. Bila kita pertanyakan janjinya, kita akan mendapat jawaban: ”tidak ada yang instant di dunia ini,” dan ”konsistensi kita lah kuncinya,” yang artinya teruslah bayar sambil berharap kelak suatu saat akan …. Agar game serupa ini tidak terjadi, siapkan lah daftar barang yang kita benar-benar butuhkan sebelum pergi ke shopping mall, dan jangan pernah membiarkan orang lain menentukan apa yang kita butuhkan, karena opininya mengandung lebih banyak untungnya bagi dia, bukan bagi kita atau anak kita. Kenali lah anak kita secara serius, apa yang bermasalah di tubuhnya, dan apa yang dibutuhkankan agar kita tahu apa yang patut kita beli. Jangan kalut, karena Tuhan pasti membimbing kita. Kekalutan membuat kita tidak mampu mendengar suara-Nya setiap saat. Percayakan masa depan buah hati kita pada-Nya, karena buah hati kita adalah anaknya, bukan anak kita. Kita hanya dititipi anak-Nya. Praise the Lord.

Matraman-20130928-00193

Kodrat & Misteri Ilahi

Pelajaran yang paling berharga dari penjelajahan ilmiah saya untuk memahami misteri autisme selama hampir dua dasawarsa bukan lah sudah mentasnya kedua anak saya dari panggung autisme. Sekali pun mereka mengalami perkembangan yang pesat sekali, terutama setelah kami menerapkan Biomagnetic Healing Techniques yang saya pelajari secara khusus di Germany ke James dan John, tetapi mereka masih menyandang label autisme, dan mungkin saja ciri autistik-nya masih melekat hingga akhir hayat mereka. Harapan saya agar James & John kelak bisa ”ngobrol,” bahkan “ngrumpi” atau ”ngomongin” orang lain, belum terwujud. Akankah ikhtiar saya mewujud atau harus kandas di tengah jalan? Dulu saya risau dengan jawaban atas pertanyaan ini, tapi kini tidak lagi setelah memahami peran saya di dunia ini. Lakukan sebaik mungkin apa yang bisa saya lakukan, dan serahkan dan pasrahkan segalanya yang berada di luar jangkauan saya pada Yang Maha Esa. We can wait the result in peace and with elation since we have done our best.

Kepulihan kedua anak saya sepenuhnya hak YME, karena mereka, dan segala yang ada di langit dan di bumi, milik Gusti Allah, sehingga kepada Nya lah segala sesuatunya kita kembalikan. James & John hanya lah titipan dari Allah pada kami yang harus kami jaga, rawat, dan kembangkan sebaik mungkin karena di suatu hari kelak mereka harus melanjutkan misi mereka masing-masing selaras dengan kodrat yang telah digariskan oleh YME. Apakah ada faedahnya bagi kita selaku orang tua anak autis atau berkebutuhan khusus untuk merisaukan apa jadinya mereka kelak sepeninggal kami selaku orang tuanya? Kerisauan semacam ini hanya menimbulkan kesibukan yang sama sekali tidak produktif, yang hanya mencuri keceriaan kita saja. Tuhan punya rencana untuk semua ciptaannya, termasuk kedua anak kami. Jangan ragukan rencana Nya, dan jangan coba untuk membaca pikiran Tuhan karena pasti gagal. Kami menyikapi rencana Tuhan untuk James & John sebagai misteri Ilahi yang pasti indah pada waktunya, dan pasti mewujud apa pun wujudnya. Pemahaman ini lah yang merupakan the best lesson yang membuat hidup kami bahagia kini.

Kami sepenuhnya menerima “suratan hidup” ini sebagai kodrat Ilahi yang kami harus tempuh dan lalui dengan sukacita dan bersyukur. Dengan tanpa beban, kami bisa memetik pelajaran dan pembelajaran dalam mengarungi bahtera kehidupan yang indah dan membahagiakan sambil menuntaskan tugas kami di dunia ini untuk membuat sisa hidup kami bermanfaat bagi seluruh ciptaan Sang Khalik, terutama mereka yang anaknya berkebutuhan khusus. Saya akan menuliskan rangkuman pembelajaran kami selama hamper dua dasawarsa sehingga para orang tua dari anak-anak ini bisa melalui tantangan hidup ini tanpa kegetiran yang berlarut dan kecemasan berkepanjangan. Kepedihan dan kekecewaan orang tua akan berdampak buruk pada anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka akan tumbuh lebih baik dan pulih lebih cepat bila orang tua mereka bisa nyaman, tentram, dan gembira dengan anak-anak yang membutuhkan kekhususan perhatian dan penanganan. Berikan anak-anak ini kebahagiaan agar mereka bisa memberi kebahagian bagi orang tuanya.