12-11.02.2016 APA YANG DIMAKSUD AUTIS

APA YANG DIMAKSUD AUTIS?

Cari gampangnya merupakan salah satu ciri manusia, yang juga kita temukan pada orang tua ABK? Kalau kita tanya pada orang tua ABK, apa sih masalahnya anak kita? Yaitu: ABK,anak berkebutuhan khusus. Kebutuhan apa dari anak kita yang khusus? Butuh didampingi, dibantu, diperlakukan berbeda, difasilitasi, dan lainnya karena anak kita tidak seperti anak normal lainnya. Apa yang membuatnya berbeda dengan anak normal, atau apa yang membuatnya perlu dikhususkan? Anak kita TIDAK BISA MIKIR. Mengapa tidak bisa mikir? Apa itu BERPIKIR? Apa yang kita lakukan sewaktu kita “berpikir?” Apakah kita bisa ‘berpikir’ pada saat kita “bertindak?” atau apakah ‘berpikir’ itu salah satu bagian dari “bertindak?” Biasanya kita mulai ‘gelagapan’ sewaktu kita mendapat pertanyaan-pertanyaan yang berpotensi mengoyak kualitas ‘otak’ kita. Secara naluriah kita mulai menangkap gejala bahaya yang bisa mempermalukan martabat kita sebagai manusia ber-AKAL. Segera kita mengeluarkan aji pamungkas yang berbunyi “pokoknya” yang disuarakan dengan nada menghardik, agar pertanyaan serupa dihentikan.

Sikap defensive serupa ini perlu ditanggalkan bila kita memiliki ABK, karena keengganan kita untuk mendalami serangkaian pertanyaan di atas lah yang menghambat upaya mengungkap misteri keganjilan buah hati kita. Kesampingkan lah EGO kita yang kadang tingginya melampaui puncak gunung Mahameru atau Himalaya, paling tidak untuk sementara waktu selama kita bertekad untuk me-normal-kan ABK kita. Tanpa ego, kita bisa dengan gamblang mengamati bahwa ABK kita tidak bisa MENGAMATI. ABK kita tidak bisa MENGAMATI (observe) dirinya sendiri dan lingkungan tempatnya berada. Anak-anak “autis” kita TIDAK MAMPU MENGAMATI “apa yang tengah mereka lakukan SEWAKTU mereka SEDANG melakukan sesuatu,” dan “menyimak konsekuensi dari tindakannya pada saat itu terjadi.” Mereka tidak ELING atau SADAR akan apa yang TENGAH terjadi. Para ABK atau anak autis TIDAK SADAR bahwa mereka “MENGALAMI” apa yang terjadi, sehingga mereka TIDAK MERASA “mengalami” apa yang telah atau tengah mereka alami. Yang lenyap pada ABK adalah KESADARAN atau awareness, dan yang dimaksud anak autis itu adalah anak yang tidak sadar diri, atau tidak eling, karena conscious mind -nya ABK tidak bisa mengekspresikan dirinya.

Apa akibatnya bila kita TIDAK sadar apa yang kita lakukan? Bahaya mengancam di mana saja dan kapan saja, dan bahaya ini lah yang mengancam ABK kita sewaktu menyeberang jalan di jalan raya yang ramai. ABK kita banyak yang tidak atau belum mengenal bahaya. Perumpamaan yang pas bagi para ABK adalah kendaraan yang meluncur sendiri bila pengemudinya tertidur tatkala tengah menyetir mobil. Mereka tidak sadar mereka punya pilihan (choice), seperti Bayi Berkebutuhan Khusus (BBK) yang tengah menoleh dengan tatapan kosong, tanpa makna. Tolehannya bersifat otomatis atau instinctive, bukan karena punya maksud tertentu. Seluruh gerak lengan dan kaki BBK ini pun seperti auto-pilot tanpa pilot seperti orang ngelantur & ngawur, tidak tahu juntrungannya, karena TIADANYA arah yang dituju dan tidak didahului oleh pikiran. Pada orang yang waras, semua tindakan atau kegiatan DIDAHULUI & DILANDASI oleh pikiran, karena pikiran adalah penyebab tindakan (thought is the cause of action). Adalah tanggung jawab semua orang tua ABK untuk menghadirkan pikiran di ABK-nya agar sepeninggalnya, ABK bisa hidup mandiri. Pernah diujarkan oleh Jalal al-Din, philosopher Islam yang saya kagumi yang kondang disebut Rumi, suatu saat kelak, ABK kita harus menapaki sendiri langkahnya, seperti tersirat dalam image attached, tanpa didampingi oleh orang tuanya. Ini lah salah satu materi yang akan dibahas dalam Workshop VI ini. Silakan mendaftar untuk menyiapkan ABK kita.

51-31.12.2015 SETTING GOALS 4 ABK IN 2016

SETTING GOALS 4 ABK IN 2016

Banyak orang tua ABK yang tidak lagi mau mengevaluasi progress ABK nya, menghitung biaya yang sudah dikeluarkan selama setahun (atau bahkan selama ini) untuk menyehatkan dan memajukan anaknya, mengkaji ulang keefektifan therapy yang diikuti anaknya (ABA, TW, SI, OT, dan lainnya) diukur dari uang yang telah dikeluarkannya selama ini, dan juga supplements serta medical tests lainnya. Alasannya sederhana: cuma bikin pusing kepala saja; ABK nya ya begitu-begitu saja, jalan di tempat tapi para orang tua tidak melihat adanya alternative lain. Kalau pun ada, ya setali tiga uang: sami mawon. Menghitung kefektifan uang yang telah dikorbankan demi buah hatinya cuma bikin sakit hati saja. Biarkan saja; anggap saja biaya untuk menghilangkan rasa bersalah (guilt feeling) bila tidak melakukan apa-apa.

Sedemikian banyak orang tua yang telah nyaris pupus harapannya dan tidak mau mulai untuk setting goals untuk masa depan ABK-nya. Mereka sudah terlampau banyak menelan kekecewaan akibat dikelabui penjual obat, diperdaya oleh mereka yang mencuri kesempatan dalam kesempitan sehingga tidak banyak asa yang tersisa. Kepercayaan diri akan pulihnya buat hatinya pun sudah ambruk karena terlampau seringnya rencana yang telah disusun gagal.

Tapi rontoknya optmisme yang menggebu bukan mutlak kesalahan orang lain. Banyak juga orang tua yang tidak cukup mengenali kendala dan derita yang menghadang ABK-nya. Kadang mereka tidak cukup punya “a workable plan” untuk ABK-nya karena ekspektasi mereka yang berlebihan: too much & too soon, sehingga rancangan yang ada jadi tidak realistis.

Para orang tua cuma mau tahu ujungnya saja: anaknya senormal anak normal, tapi tidak mau berkeringat untuk merencanakan jalan membuat anaknya well as well as well kids, sebaik anak normal. Andalannya ilmu POKOKNYA anaknya tidak lagi dungu atau bebal tanpa mau memahami kelainan yang dialami dan diderita anaknya. Maunya cari jalan pintas yang membuat anaknya dalam sekejab jadi hebat.

Harapannya ada keajaiban dan mereka bersedia untuk keluar uang untuk menghadirkan keajaiban yang tidak membuat kepalanya mumet memikirkan keterkaitan antara uang yang dibayar (untuk membeli OBAT AJAIB penawar frustrasi) dengan mekanisme yang membuat anaknya MENDADAK jadi superboy. Mari kita hentikan ilusi sim salabim dan halusinasi semacam ini yang hanya akan menghempaskan hidup kita lebih dalam. Gunakan kesempatan yang ada di akhir tahun 2015 dan awal tahun 2016 untuk menyusun masa depan ABK kita. Kita tidak punya banyak waktu: kita makin tua dan tenaga kita makin lemah termakan usia, sementara ABK kita makin besar, makin kuat, makin susah nurut perintah kita, dan makin banyak permasalah pelik dan rumit, termasuk kebutuhan biologis dan sosialnya, yang muncul seiring dengan perjalanan usianya.

Kita bisa mulai dari kebisaan dan keahlian apa yang dibutuhkan oleh ABK kita bila orang tuanya telah tiada. Fokuskan pada ASK atau Attitude (sikap), Skills (keahlian), dan Knowledge (pengetahuan), secara terurut: sikap selalu nomor satu dan pengetahuan senantiasa terakhir. Perbaiki attitude nya dengan menyelesaikan seluruh sensory issues. Kembangkan personal & interpersonal skills.

Untuk mencapainya, kita perlu membuat rencana kerja bagi ABK kita selama 2016 dengan tujuan agar ABK kita bisa bekerja mencari nafkah sendiri jika kriteria ASK terpenuhi. ASK atau attitude, skills, & knowledge ini kita gunakan sebagai titik akhir yang kita sasar, dan titik awalnya adalah kondisi ABK kita saat ini, akhir 2015 atau awal 2016. Kit tetapkan ABK kita berada pada tahap mana dari 7 jenjang pertumbuhannya. Setelah itu, kita menelaah issues yang mengemuka dan passion-nya. Issues, biasanya berakar pada sensory, ini perlu dibenahi agar perilaku yang mengganggu (disrupting) bisa kita tanggulangi sedini mungkin sehingga kita bisa membentuk sikap yang positive.

Tentunya sensory issues terkait dengan “permasalahan utama” yang menyebabkan anak kita jadi aneh bin ganjil: sumbatan yang mengganggu kelancaran arus bioenergi di tubuhnya. Sumbatan ini harus dibongkar lebih dulu melalui 4 tahapan road-map dari disorder menjadi order agar ABK kita tidak lagi kekurangan setrum. Secara simultan, kita bisa mulai mengembangkan personality –nya dengan bertumpu pada passion & hobby yang digemarinya dengan mengikuti 7 tahapan seperti terlihat pada diagram terlampir. Keseluruhan action plans ini harus bisa diturunkan menjadi program harian yang sifatnya specific, measurable, attainable, relevant (atau realistic), time-based, enthusiastic, & rewarding.

50-29.12.2015 SYNCHRONIZING PERSPECTIVES & BROADENING HORIZON

SYNCHRONIZING PERSPECTIVES & BROADENING HORIZON

I only have two children and both of them are autistic. I can’t recreate the past, but if I could, I’’d have stayed far away from vaccines with me treating them deliberately as the last in my list. With myelin stealth exhaustively eaten, the axon fails to function. Existing synapses collapse with the dendrites in each synapse dwindling. A regress is set in motion. This is the neurological damage, with no thanks to vaccines of course.

Nonetheless, my wife and I have no regret of what have happened. In our perspectives, they are the best gifts God ever given to us. We trust this is the path we had to undertake. Nothing random ever occurs. Our children’s autism is the Cross we have to shoulder we glee and enthusiasm. Now our boys are way better than around 17 years ago when we were in a state of alert & emergency almost everyday. Our boys are now happy. They are our source of happiness. We are a happy family.

R-COMPLEX & RIWAYAT ABK

Otak kita memiliki tiga lapisan, berdasarkan penelitian Paul D. MacLean, neuroscientist dari Amerika yang menyusun konsep yang dikenal sebagai The Triun Brain. Lapisan pertama yang disebut Reptilian Brain atau Reptile Brain atau R-Complex merupakan yang tertua ditilik dari evolusinya. Sebutan reptil mengacu pada pada perilaku hewan yang sifatnya instinctive atau spontant bila menemui atau mendapat rangsangan (stimulus). Naluri dari hewan melata adalah menyerang atau lari (fight-or-flight reaction) bila dirangsang, aggressive, siap bertarung, dan lainnya. Reptilian brain yang letaknya terdalam, dan terdiri dari batang otak dan otak kecil, mengendalikan fungsi-fungsi vital di tubuh seperti detak jantung, pernafasan, temperature atau suhu, dan keseimbangan. Otak ini lah yang umumnya digunakan oleh ABK.

Pada manusia normal, R-Complex ini dikendalikan oleh lapisan otak di atasnya: Mammalian Brain atau Human Brain atau Cortex, lapisan teratas yang paling berkuasa. Cortex ini lah yang mengendalikan dan mengendalakan reaksi instinctive dari Reptilian Brain atau reaksi emosional dari Mammalian Brain. Tapi dalam keadaan genting atau bila kita mengalami stress yang berkepanjangan, Reptile Brain ini langsung mengambil alih. Contohnya bila kita sekonyong-konyong menjumpai bahaya yang mengancam jiwa kita dan mengharuskan kita bereaksi seketika itu juga. Kita tidak akan cukup punya waktu untuk berpikir sewaktu mengendara di jalan raya bila mobil di depan kita berhenti secara mendadak, dan dalam suasana gawat tersebut, Reptilian Brain kita langsung mengambil kendali dari Human Brain untuk menginjak pegas agar terhindari dari tabrakan.

Harusnya setelah tumbukan terhindari, kondisi darurat ini segera berakhir, kembali ke kondisi normal, dan tampuk pengendalian kembali lagi ke Human Brain. Tapi teori ini bisa tidak berlaku, jika melihat dari riwayat ABK, seperti yang dialami oleh ABK sewaktu akan keluar dari rahim ibunya melalui evakuasi paksa atau operasi cesar tatkala otak yang baru berkembang hanyalah otak reptilnya. Saat itu bagi sang bayi yang baru lahir, pilihannya hanya satu, yaitu Reptile Brain, karena Mammal Brain & Human brain nya belum berkembang. Akibatnya, ketegangan yang terjadi sewaktu jiwanya merasakan adanya marabahaya yang membahayakan jiwanya, terutama pada forceps birth, tidak bisa mereda, dan terbawa hingga dewasa, bahkan hingga ajal menjemput. Agar bisa tumbuh normal, kondisi darurat ini harus kembali ke normal, dan Reptilian Brain harus menyerahkan kendali tubuh ke Human Brain kecuali kendali yang sifatnya autonomous atau mandiri seperti detak jantung.