APAKAH ABK ANDA BUKAN PRIORITAS ANDA?

Ada orang tua (client lama, sekitar tahun 2007) yang mempertanyakan mengapa biaya untuk ikut serta dalam Workshop yang saya selenggarakan terlampau mahal. Murah atau mahal tentu relatif: dibandingkan dengan apa? Bagi Bapak dari seorang ABK berusia 16 (laki), beliau akan ikut Workshop ini jika biayanya Rp500.000, karena pengeluarannya untuk ABK-nya per bulan sudah mendekati Rp8 juta per bulan. Itu pun dengan sudah dengan pengorbanan yang luar biasa. Beliau sudah mengurangi jumlah jam terapi dari mustinya 40 jam/minggu jadi 20 jam/minggu, dan bahkan karena sumber keuangan tidak sebesar dulu, dengan sangat terpaksa cuma bisa 15 jam/minggu. Belanja bulanan untuk supplements pun sudah dipangkas dari Rp2.8 juta/bulan jadi Rp1.6 juta/bulan. Akhirnya kami pun bertemu dan  ngobrol, dan saya pun menjelaskan bahwa apa yang dialaminya juga dialami oleh banyak orang tua. Sebagai sesama ayah ABK, kami pun hanyut membicarakan  anak masing-masing, dan Bapak ini mengungkap keputusasaannya, bukan hanya tentang ABK-nya yang hingga kini belum bisa nangkap pertanyaan orang, apa lagi mikir, tetapi juga kemalangan yang merundung hidupnya. Di usianya yang menjelang 45, Bapak ini memikirkan siapa yang akan merawat dan menghidupi ABK-nya. Selama isterinya masih ada, ABK-nya masih ada yang menjaganya, tapi ABK-nya yang kini memasuki usia akil balik, tidak lagi semudah dulu mengaturnya. Kendati kemampuan masih jauh dari mandiri, ABK-nya ini mulai membangkang, tidak lagi mudah diperintah. Badannya makin besar dan tenaganya makin kuat, sementara orang tuanya makin lemah dari sisi daya dan dana.

Beliau cukup terperanjat tatkala saya cerita bahwa biaya yang kami keluarkan tidak lah sebesar yang beliau keluarkan per bulan untuk kedua (bukan satu seperti dia) anak kami. Keterkejutan bertambah setelah mengetahui hidup kami tidak sekusut hidupnya, atau hidup kami 11-12 tahun yang lalu sewaktu dia berkunjung ke rumah kami. Kala itu kondisi puteranya tidak seberat kondisi salah satu dari anak kami, tapi kami tidak mendelegasikan tiga tanggung jawab kami ke orang lain: 1) mengenali dan memahami permasalahan yang melilit kedua putera  kami; 2) memutuskan apa yang harus dilakukan untuk mengurangi derita kedua putera kami dan mengamati dengan seksama perubahan yang terjadi secara physiology (fungsi keragaan) dan psychology (kejiwaan) pada kedua putera kami (mereka pun ikut program ABA dengan jadwal 30 jam/minggu, SI, mengkonsumsi supplements & vitamin megadosis atau Biomedical  Intervention di bawah pengawasan a team of experts yang banyak sekali, sekitar 9 macam); & 3) mengevaluasi efektifitas terapi yang mereka jalani & supplements dan segala yang masuk ke raga mereka setiap 6 bulan. Kami pun ‘kenyang’ dikelabui para penjaja supplements yang mahir membaca “keterpepetan” orang tua ABK. Untungnya kedua anak kami ditangani oleh para terapis “papan atas” yang baca buku bahasa Inggris, bukan mereka yang kursus 2 hari langsung jadi “experts” papan bawah. Team dokter yang menangani kedua anak kami pun tergolong yang “terbaik” di Indonesia kala itu.

Progress ABK amat ditentukan oleh apa yang dilakukan oleh orang tuanya masing-masing. Jangan terlampau banyak berharap ABK-nya akan membahagiakannya, kalau cara orang tuanya menangani ABK-nya hanya MENJALANI saja, asal jalan tanpa perencanaan khusus, evaluasi terus menerus, dan perubahan cara penanganan mengikuti perubahan yang terjadi pada ABK Anda baik secara phyisiology (keragaan) maupun psychology (kejiwaan).  Kalau penanganan ABK hanya ASAL JALAN, jangan heran kalau progress yang diharapkan terjadi pada ABK Anda, hanya merupakan ilusi semata, karena Anda tidak cukup serius menangani ABK Anda. ABK Anda bukan prioritas utama dalam hidup Anda kalau Anda tidak cukup tahu perubahan apa yang terjadi pada ananda, kalau rasa sakit yang diderita & tangisnya tidak banyak mempengaruhi perasaan Anda, kalau Anda tidak heran mengapa ananda masih belum bisa mengungkapkan keinginannya dengan kata-kata yang dipahami orang awam, kalau wajah & nama pemain sinetron lebih sering tampil dalam hidup Anda. Mungkin kekecewaan demi kekecewaan telah membuat para orang tua jadi “mati rasa”; mereka terlampau sering diperdaya oleh para penjaja supplements & terapis, sehingga akhirnya mereka jadi apatis & putus asa: “masa bodo” walau dalam hatinya, terutama ibu, batin ini bak disayat sembilu. Namun tanggung jawab tetap pada orang tua. Percuma keluar uang hingga Rp7.8 juta per bulan, jika ABK-nya masih tidak mengenali dirinya dan lingkungannya, dan ini adalah pemborosan yang sia-sia. Tapi apakah biaya untuk hadir di Workshop saya terlampau mahal? Murah sekali, bukan karena biaya yang saya keluarkan untuk mengumpulkan pengetahuan lebih besar dari 100 kali lipat yang dibayar peserta Workshop, tapi dengan mengikuti Workshop saya, para orang tua tahu bagaimana membuat ABK-nya bisa mikir, bisa sehat, bisa ceria, dan bisa menuju kemandirian. Apakah ABK Anda terlampau mahal untuk Anda dan kebahagiaan hidup Anda?

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Facebook
Google+
Google+
http://therapeuticmagnetism.com/apakah-abk-anda-bukan-prioritas-anda/
YouTube
YouTube
INSTAGRAM

Leave a Reply