We-are-extraordinary-3

JANGAN NAIF

Jangan melihat ABK anda pada wujud fisiknya. Yang anda lihat hanya “bungkus” dari ananda. ABK anda bukan lah raganya atau bungkusnya, tapi isinya atau jiwanya. Jangan pernah berkesimpulan ABK adalah badannya, karena kita pun bukan raga kita. Kalau kita meninggal, orang terdekat kita, entah suami atau isteri kita, TIDAK akan pernah MENGINGINKAN & MENGIJINKAN raga kita di simpan di rumah kita sendiri, walau cuma menempati pojok rumah, atau bahkan gudang. Mungkin semasa hidup kita lah yang paling berkuasa di rumah kita, tapi setelah kita menghembuskan nafas terakhir, tidak ada orang yang mau menerima jasad kita. Saat nyawa kita melayang, tak ada yang setuju kalau raga kita didudukkan di ruang tamu atau ditidurkan di ranjang pribadi yang setiap hari kita tiduri bersama isteri atau suami tercinta. Bahkan pasangan hidup kita yang mencintai kita sepenuh hati pun PASTI keberatan kalau badan kita dibaringkan di lantai (apalagi di ranjang pengantin), dan akan secepatnya membawa badan kita ke rumah duka. Apakah mereka TIDAK mencintai kita setelah kita wafat?

Keluarga kita mencintai kita, dan kita tidak perlu meragukan cinta mereka pada kita. Tapi yang mereka cintai adalah JIWA kita, bukan RAGA kita, karena yang disebut kita BUKAN lah raga kita, tapi jiwa kita. Yang kita maksud dengan ABK kita pun sama: bukan, dan tidak pernah raganya. ABK kita, seperti halnya kita, adalah jiwa yang memiliki raga, dan tidak pernah terbalik. Jangan naïf: setelah ajal menjemput, jasad kita tidak lagi ada yang mau menerimanya, apa lagi mau beli atau memperebutkannya, termasuk keluarga kita sendiri. Sewaktu orang yang kita cintai meninggal, kita sadar mereka bukan lah raganya, melainkan jiwanya. Tapi, semasa orang yang kita kasihi masih hidup, kita kerap LUPA bahwa kekasih kita itu adalah pemilik raganya, bukan raganya. Setelah jiwanya meninggalkan badannya, raganya jadi tidak bernilai, dan tidak ada satu orang pun yang mau menampungnya karena raga ini akan membusuk dalam waktu seminggu, dan tidak ada tempatnya untuk bersemayam kecuali kembali ke bumi, tempatnya berasal. Sadari lah kita, dan ABK kita, bukan lah raga yang memiliki jiwa, tetapi jiwa yang memiliki raga.

Pergeseran cara pandang kita ke ABK kita akan mengubah pemahaman kita tentang langkah yang harus kita tempuh untuk membuat ABK kita mandiri dengan menyatukan jiwa dan raganya. Dengan menatap ABK kita sebagai jiwanya, kita bisa melihat ABK kita secara berbeda: yang bermasalah adalah kendaraan (raga) –nya, bukan pengendaranya. Kendaraannya sarat dengan masalah, sehingga ABK kita tidak bisa berkendara secara baik. Kini kita bisa merumuskan masalahnya sebagai renggangnya hubungan antara jiwa dan raga. Badan ABK kita seolah kehilangan arah akibat dari proses integrasi dari jiwa ke raga tidak berjalan mulus dan penuh, karena kurangnya “lem” yang merekatkan jiwa dan raga, atau terhambatnya proses integrasi tersebut. Solusinya yang hadir di pikiran kita selaku orang tua ABK pun turut berubah dengan bergesernya cara kita memandang anak kita yang tidak atau BELUM bisa berpikir senormal anak normal. Kita sadar selama jiwa belum bersenyawa secara penuh dengan raganya, anak kita akan TIDAK bisa ber-PIKIR dan menindaklanjuti apa yang telah dipikirnya masak-masak. Rasakan dan resapi perbedaan cara pandang dan cara berpikir ini agar Anda bisa membuat ABK Anda bisa berpikir. Kewajiban kita selaku orang yang dititipi Tuhan adalah membuatnya bisa berpikir agar ABK kita tidak dijadikan mangsa ekstra empuk oleh orang lain. Tidak kah Anda ingin menginginkan ananda bisa nyambung kalau ditanya? Bukan kah sudah waktunya ABK Anda bisa berpikir? Dapatkah Anda bayangkan ABK Anda bisa ngobrol dengan anda seperti anak normal lainnya? Dapatkan jawabannya dengan menghadiri Workshop yang mengungkap cara membuat ABK Anda bisa berpikir & bertindak seperti yang Anda harapkan pada 27 Agustus 2016.

Please follow and like us:
RSS
Follow by Email
Facebook
Facebook
Google+
Google+
http://therapeuticmagnetism.com/jangan-naif/
YouTube
YouTube
INSTAGRAM

Leave a Reply